Bisnis / Makro
Rabu, 08 April 2026 | 17:41 WIB
Tekanan rupiah disebabkan dinamika global dan suku bunga Amerika Serikat, bukan karena rapuhnya fundamental ekonomi domestik Indonesia. [Antara]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah menguat 93 poin menjadi Rp17.012 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 8 April 2026.
  • Tekanan rupiah disebabkan dinamika global dan suku bunga Amerika Serikat, bukan karena rapuhnya fundamental ekonomi domestik Indonesia.
  • Penguatan dolar AS justru menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekspor serta memperkuat industri domestik.

Suara.com - Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto mengatakan pergerakan rupiah saat ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dan bahwa justru di saat yang ada peluang bagi pelaku usaha di Indonesia. 

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2026) menguat 93 poin atau 0,54 persen menjadi Rp17.012 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS.

David menilai rupiah masih tertekan tidak mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi Indonesia. Tekanan yang terjadi lebih merupakan bagian dari dinamika global yang tengah bergejolak, mulai dari penguatan dolar AS hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Menurutnya, penguatan dolar AS terjadi secara menyeluruh terhadap berbagai mata uang dunia, khususnya di negara berkembang, seiring tingginya suku bunga di Amerika Serikat dan meningkatnya kecenderungan investor global mencari aset aman.

“Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global,” kata David.

Ekonomi Tumbuh Solid

David menekankan bahwa di tengah tekanan tersebut, kondisi ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur yang solid. Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali dalam target Bank Indonesia, serta sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang kuat dengan permodalan dan likuiditas yang memadai.

Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia juga masih berada di level yang sehat, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor. Dalam laporan Bank Indonesia, cadangan devisa RI pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar USD 148,2 miliar.

"Selain itu, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus menjadi penopang penting, didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel," tambah David.

Baca Juga: Rupiah Babak Belur ke Rp17.100, BI Siapkan Instrumen Operasi Moneter

Pandangan senada disampaikan Ekonom Fakhrul Fulvian. Ia melihat pelemahan rupiah saat ini telah memasuki fase overshooting, yakni kondisi ketika nilai tukar bergerak melampaui titik keseimbangan jangka pendek akibat respons berlebihan pasar terhadap tekanan global.

“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.

Fakhrul menambahkan, salah satu faktor yang mendorong fenomena ini adalah tertundanya penyesuaian harga domestik, terutama pada komponen yang diatur pemerintah. Dalam kondisi tersebut, nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan.

Meski demikian, ia menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sudah tepat. Intervensi di pasar, baik melalui spot maupun instrumen derivatif, dinilai penting untuk meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan pasar, meski tidak serta-merta menghilangkan tekanan secara instan.

Ada Peluang

Di balik tekanan yang terjadi, pelemahan rupiah justru membuka peluang strategis bagi perekonomian nasional. David melihat kondisi ini dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global, sekaligus mendorong perbaikan neraca transaksi berjalan.

Load More