- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen pada kuartal IV dan diproyeksikan mencapai ≥5,5 persen di kuartal I, termasuk yang tertinggi di antara negara G20.
- Konsumsi rumah tangga menyumbang 54 persen PDB, produksi beras mencapai 34,7 juta ton dengan stok aman, serta kebijakan biodiesel B50 memperkuat ketahanan energi dan anggaran.
- Rasio utang dijaga di 40 persen PDB, defisit 3 persen, penerimaan pajak tumbuh 14,3 persen, serta koordinasi dengan Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah dan suku bunga di 4,75 persen.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, meminta masyarakat tidak resah karena, kondisi perekonomian nasional masih kuat, meski kondisi geopolitik Timur Tengah.
Dia menjelaskan, menyebut seluruh menteri, wakil menteri, hingga pimpinan BUMN turut hadir membahas perkembangan ekonomi nasional dalam rapat kabinet bersama Presiden Prabowo Subianto.
"Tadi disampaikan secara nasional kondisi perekonomian kita baik," ujarnya usai rapat di Istana Negara, Rabu (8/4/2026).
Airlangga memaparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di posisi atas di antara negara-negara G20. Pada kuartal keempat, pertumbuhan tercatat mencapai 5,39 persen, hanya berada di bawah India.
Menurutnya, pemerintah juga melihat tren positif berlanjut pada awal tahun. Indikator ekonomi seperti indeks keyakinan konsumen, neraca perdagangan, serta stabilitas sistem keuangan domestik dinilai tetap terjaga.
"Maka pemerintah masih melihat pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama masih baik. Masih bisa mencapai lebih besar sama dengan 5,5 persen," kata Airlangga.
Dari sisi konsumsi, pemerintah mencatat peran konsumsi rumah tangga tetap dominan dengan kontribusi sebesar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain itu, ketahanan pangan juga dinilai dalam kondisi relatif kuat. Produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,7 juta ton dengan stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Bulog mencapai 4,6 juta ton.
"Ketahanan pangan kita juga relatif kuat," kata Airlangga.
Baca Juga: Meski Avtur Melonjak, Pemerintah Jamin Biaya Haji Tetap
Di sektor energi, pemerintah telah menyepakati implementasi mandatori biodiesel B50 yang akan mulai berlaku pada 1 Juli mendatang.
"Dan kita sudah menyepakati per 1 Juli B50 dimana itu meningkatkan ketahanan anggaran dari saving sebesar Rp 48 triliun," bebernya,
Sementara itu, dari sisi fiskal, Menteri Keuangan melaporkan penerimaan pajak hingga Maret mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 14,3 persen atau mencapai Rp 462,7 triliun.
Airlangga menambahkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berfungsi sebagai peredam gejolak (shock absorber) di tengah ketidakpastian global.
"Fungsi dari APBN sebagai shock absorber," ucapnya.
Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas fiskal dengan mempertahankan rasio utang di kisaran 40 persen dari PDB, jauh di bawah batas maksimal yang diatur undang-undang sebesar 60 persen.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- Promo Superindo Terbaru, Minyak Goreng Cuma Rp20 Ribuan, Susu dan Kecap Diskon Besar
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026
-
5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik
-
Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%
-
Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!
-
Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital
-
Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja