Bisnis / Makro
Selasa, 26 Mei 2026 | 13:50 WIB
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Usai libur Lebaran, IHSG sempat melemah 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62 dan bergerak berbalik arah menguat 1,05 persen atau naik 75 poin ke level 7.181,65 setelah beberapa menit dibuka. [ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom].
Baca 10 detik
  • Bursa Efek Indonesia merancang strategi agar pelaku industri kreatif dapat melantai di bursa saham melalui mekanisme IPO.
  • Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik berkomunikasi dengan Kementerian Ekraf untuk menyelaraskan peta jalan korporatisasi sektor ekonomi kreatif.
  • Pelaku industri kreatif wajib memperbaiki tata kelola dan memahami regulasi pasar modal guna memenuhi syarat perusahaan publik.

Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah merancang strategi ekspansi baru dengan membidik potensi masif dari sektor industri kreatif nasional untuk masuk ke panggung pasar modal domestik.

Melalui draf rencana strategis ini, otoritas bursa membuka peluang lebar guna memfasilitasi para pesohor, artis, hingga pembuat konten (influencer) agar dapat mentransformasikan bisnis mereka menjadi perusahaan terbuka melalui mekanisme penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memaparkan bahwa kehadiran korporasi berbasis ekonomi kreatif di lantai bursa akan memberikan warna baru. Langkah ini diyakini mampu membuat draf portofolio industri di pasar modal Indonesia menjadi jauh lebih bervariasi dan atraktif bagi investor.

Guna mematangkan draf rencana tersebut, pihak BEI mengonfirmasi telah menjalin komunikasi intensif dengan pemangku kebijakan terkait untuk menyelaraskan peta jalan industri.

"Tadi saya udah berdiskusi juga dengan Pak Menteri Ekraf, ya bagaimana supaya kita bisa menjalin kerja sama, bertukar informasi ya, supaya kami di bursa juga bisa melihat prospek, memahami bagaimana struktur apa bisnis di industri kreatif," ungkap Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Lebih lanjut, Jeffrey mengingatkan bahwa untuk mewujudkan draf korporatisasi tersebut, para pelaku di industri kreatif dituntut untuk mulai berbenah. Mereka perlu mendalami regulasi pasar modal serta mempersiapkan tata kelola akuntansi yang matang demi memenuhi syarat sebagai perusahaan publik.

Menurutnya, keterlibatan komunitas kreatif di pasar modal memiliki dimensi ganda yang sangat luas. Mereka tidak hanya diposisikan sebagai calon emiten yang memburu pendanaan publik, melainkan juga berpotensi besar mempertebal basis investor domestik.

"Ya teman-teman di industri kreatif juga bisa mulai mempersiapkan diri, memahami bagaimana regulasi untuk bisa menjadi perusahaan tercatat, misalnya. Tentu itu, itu akan terus kita lakukan," jelas Jeffrey.

Menyadari bahwa mekanisme investasi saham dan draf teknis IPO masih menjadi hal yang relatif baru bagi sebagian besar pekerja seni, BEI berkomitmen untuk mengintensifkan program edukasi dan literasi keuangan secara inklusif.

Baca Juga: IHSG Mulai Bangkit di Level 6.200 pada Sesi I, 540 Saham Hijau

Pintu bursa akan dibuka lebar sebagai pusat pembelajaran bagi para artis, pembuat konten, hingga komunitas kreatif agar mereka dapat lebih akrab dengan dunia pasar modal.

"Artis, pelajar, ya, siapapun kelompok masyarakat, tentu kami silakan untuk datang dan belajar di bursa," pungkasnya.

Load More