Bisnis / Keuangan
Rabu, 08 Juli 2026 | 17:46 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp18.014 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 8 Juli 2026.
  • Pelemahan dipicu penurunan Indeks Keyakinan Konsumen domestik serta isu penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh S&P.
  • Tekanan diperberat oleh kenaikan harga minyak dunia dan sikap hawkish The Fed yang memengaruhi mata uang Asia.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan tren pelemahan dan resmi menembus level psikologis baru.

Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026), rupiah ditutup merosot ke level Rp18.014 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan koreksi sebesar 34 poin atau melemah 0,19 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.995 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan mata uang Garuda kali ini lebih banyak didorong oleh sentimen negatif yang berasal dari dalam negeri.

Salah satu pemicu utamanya adalah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencatatkan penurunan signifikan.

"Rupiah melemah terhadap dolar AS umumnya disebabkan oleh tekanan dari domestik. Rupiah tertekan oleh survei yang menunjukkan penurunan yang cukup besar pada kepercayaan konsumen Indonesia di bulan Juni," jelas Lukman, Rabu (8/7/2026).

Selain melesunya optimisme konsumen, pasar keuangan domestik juga tengah dibayangi oleh sentimen negatif terkait potensi turun kasta (downgrade) pasar modal Indonesia.

Isu ini mencuat setelah adanya wacana peninjauan (review) dari S&P Dow Jones yang mengisyaratkan kemungkinan Bursa Efek Indonesia (BEI) dimasukkan ke dalam kategori pasar perintis (frontier market).

"Isu mengenai potensi downgrade klasifikasi pasar ekuitas Indonesia ke frontier dari S&P Dow Jones juga menekan rupiah. Secara sentimen domestik masih sangat lemah, sehingga rupiah sulit bangkit kecuali dolar AS mengalami pelemahan yang signifikan," tambahnya.

Baca Juga: IHSG Uji Level 6.000: Cek 6 Saham Rekomendasi, BUMI Ikut Disebut

Faktor Eksternal: Harga Minyak dan Sikap Hawkish The Fed

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah semakin berat akibat tren kenaikan harga minyak mentah dunia. Eskalasi konflik geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan, yang berujung pada lonjakan harga komoditas energi tersebut.

Selain itu, pelaku pasar juga bersikap wait and see (menunggu) terhadap rilis risalah pertemuan komite pasar terbuka Federal Reserve (FOMC) malam ini. 

Jika narasi dari pejabat The Fed, seperti Kevin Warsh, kembali menunjukkan sikap hawkish (mendukung suku bunga tinggi), dolar AS berpotensi semakin menguat.

Merespons kondisi tersebut, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah dalam jangka pendek akan berada pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS. Ia juga menekankan perlunya intervensi serta penguatan sinergi kebijakan dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Mayoritas Mata Uang Asia Kompak Melemah

Tekanan yang dialami rupiah sejalan dengan pelemahan yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap greenback. Berikut adalah catatan performa sejumlah mata uang Asia pada penutupan perdagangan sore ini:

Rupee India: Mencatatkan pelemahan terdalam di Asia, ambles sebesar 0,24 persen.
Rupiah Indonesia: Terkoreksi 0,19 persen.
Baht Thailand: Melemah sebesar 0,13 persen.
Peso Filipina: Ditutup tertekan 0,11 persen.
Yen Jepang: Mengalami penurunan sebesar 0,09 persen.
Yuan China: Terkoreksi tipis sebesar 0,02 persen.

Load More