Suara.com - Insiden tragis yang menimpa pendaki asal Brasil, Juliana Marins (26), di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, masih mengguncang jagat maya dan memicu perdebatan sengit.
Di tengah gelombang kritik dan sorotan publik internasional, muncul sosok yang menjadi pusat kontroversi, yakni Ali Musthofa, pemandu lokal yang mendampingi pendakian Juliana.
Ali adalah orang pertama yang menyadari bahwa Juliana telah menghilang dari rombongan.
Tanpa menunggu tim penyelamat, dia langsung nekat turun ke jurang hanya berbekal senter dan keberanian.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, tampak Ali menuruni tebing tanpa perlengkapan standar keselamatan seperti harness, anchor, karabiner, atau jumar.
Dia bertaruh nyawa demi menemukan Juliana dalam kegelapan malam dan medan ekstrem.
"Saya hanya pergi beberapa menit. Saya minta dia istirahat karena bilang lelah. Lalu saya kembali. Saya tidak meninggalkannya," ujar Ali dengan suara lirih.
Cahaya senter dari dasar jurang menjadi satu-satunya petunjuk bagi Ali dalam pencariannya. Sayangnya, upaya evakuasi mandiri itu tidak membuahkan hasil.
Juliana ditemukan tewas beberapa hari kemudian, di salah satu jalur tersulit Rinjani, Cemara Nunggal.
Baca Juga: Investor Pembangunan Kereta Gantung Menuju Gunung Rinjani Kabur
"Saya coba turun. Saya gagal. Tapi saya tidak membiarkannya sendiri," tegasnya lagi.
Ali Musthofa mengaku bertemu dengan Juliana dan lima pendaki lainnya pada Kamis (19/6/2025) malam untuk briefing.
Keesokan harinya, pada Jumat pukul 07.00 WITA, rombongan memulai pendakian dari Resort Sembalun, Lombok Timur. Hingga Sabtu pagi, semua berjalan lancar.
Namun tragedi dimulai ketika rombongan berada di kawasan Cemara Nunggal. Juliana, yang berada di barisan paling belakang, tiba-tiba tidak terlihat lagi.
Ali segera kembali ke lokasi terakhir ia melihat Juliana dan melihat senter korban menyala samar di dasar jurang.
"Kejadiannya pada Sabtu pagi. Saya taruh tas dan mencari dia dan lihat posisi senter di tebing," ujarnya.
Berita Terkait
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Jalur Wisata Pusuk Sembalun Tertutup Longsor, Gubernur NTB Instruksikan Percepatan Pembersihan
-
Kereta Gantung Rinjani: Proyek 'Rp6,7 Triliun', Investor China Ternyata Tidak Terdaftar
-
10 Pendakian Seru di Indonesia yang Wajib Dicoba oleh Pencinta Alam
-
Pendakian Rinjani Dibuka Lagi, Ini Syarat Terbarunya
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
Terkini
-
Paman dan Keponakan Kompak Bawa 35 Kg Sabu di Tanjung Balai
-
Review Rembulan Tenggelam di Wajahmu Extended: Saat Jeda Waktu Memberi Ruang bagi Makna
-
Anjing Pitbull Lepas Serang Bocah 9 Tahun di Bandung, Korban Luka Parah di Kepala dan Telinga
-
AMPB Pastikan Masyarakat Pati yang Bertemu DPR Hari Ini Bukan Pihaknya
-
Prabowo Ingin Penerjun Bebas Atasi Karhutla Riau: Pertama Kali dalam Sejarah
-
Geliat Musik Keras di Magnumotion Loud Fest, dari Hijaber hingga Aksi Cadas Seringai
-
Kadet Mundur Diduga karena Hijab, DPR: Aturan Unhan Tidak Melarang!
-
Tolak Perfect Woman Syndrome: Saatnya Perempuan Hidup Realistis dan Merdeka
-
Update Gempa NTT: Korban Meninggal Tembus 100 Orang, Luka Berat Tak Tertolong
-
Gugat Dosa Struktural Negara, FIAD Nyatakan Indonesia Darurat Keadilan