Suara.com - Badan Kepegawaian Negara (BKN) resmi menerbitkan kebijakan baru terkait mutasi Aparatur Sipil Negara (ASN), yang kini memungkinkan pengajuan perpindahan tugas hanya setelah enam bulan masa tugas. Kebijakan ini merupakan kabar baik yang telah lama dinantikan oleh banyak pegawai negeri sipil di seluruh Indonesia.
Kepala BKN, Zudan Arif Fakrulloh, pada awal Juli 2025 lalu menegaskan, ketentuan mutasi ASN ini mengalami perubahan signifikan. Sebelumnya, ASN diwajibkan bertugas minimal dua tahun di lokasi penempatan sebelum dapat mengajukan perpindahan.
“Yang tadinya harus dua tahun, sekarang enam bulan sudah boleh dipindah,” ujar Zudan dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI yang disiarkan secara resmi melalui TVR Parlemen.
Untuk diketahui, selama ini aturan pengabdian jangka panjang kerap menjadi kendala bagi ASN yang ingin berpindah lokasi kerja. Banyak di antara mereka memiliki alasan pribadi yang mendesak, seperti kondisi keluarga, masalah kesehatan, atau bahkan kebutuhan dinas yang tiba-tiba muncul di wilayah lain.
Perubahan kebijakan ini dilakukan BKN sebagai respons terhadap dinamika kebutuhan organisasi dan untuk mempercepat reformasi birokrasi. Dengan mobilitas pegawai yang lebih fleksibel, instansi pusat dan daerah diharapkan dapat mengoptimalkan distribusi Sumber Daya Manusia (SDM) sesuai kebutuhan strategis kelembagaan.
Syarat Mutasi PNS atau ASN
Meskipun aturan mutasi kini menjadi lebih longgar dari segi waktu, Zudan menegaskan bahwa proses mutasi tetap harus mengikuti ketentuan hukum dan prinsip tata kelola kepegawaian nasional. Ia mengingatkan bahwa sistem kepegawaian tidak boleh dijalankan secara sembrono atau "ugal-ugalan."
“Sistem kepegawaian nasional tidak bisa dijalankan secara ugal-ugalan. Kalau tidak sepakat dengan semua aturan yang ada, maka regulasinya yang harus diubah secara resmi,” tegasnya.
Dalam penjelasan lanjutannya, Zudan menyebutkan bahwa pengajuan mutasi hanya dapat dilakukan bila ASN telah melewati masa kerja minimal enam bulan dan memenuhi evaluasi kinerja. BKN menyusun kebijakan ini dengan prinsip dasar yang jelas:
Baca Juga: ASN Pemprov DKI Masih Bandel Pakai Kendaraan Pribadi Hari Rabu, Pramono Janji Kasih Hukuman Tegas
- ASN telah memiliki perjanjian kinerja dan kontrak kerja yang valid. Ini memastikan komitmen awal ASN terhadap tugasnya.
- Evaluasi terhadap pelaksanaan tugas dilakukan secara objektif. Penilaian kinerja menjadi indikator penting kelayakan mutasi.
- Pengajuan harus dilakukan melalui prosedur administrasi resmi dengan rekomendasi dari pejabat penilai kinerja dan kepala instansi terkait.
Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka pengajuan mutasi dapat ditolak, meskipun ASN telah melewati enam bulan masa kerja. Hal ini penting untuk mencegah penyalahgunaan kebijakan dan memastikan mutasi dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kinerja.
Aturan Teknis Mutasi PNS
Meskipun kebijakan "enam bulan" ini telah diumumkan dan disambut baik, hingga saat ini BKN belum merilis aturan teknis resmi sebagai panduan pelaksanaannya. Artinya, detail-detail penting seperti:
- Jenis alasan yang diperbolehkan (termasuk alasan keluarga atau kesehatan),
- Mekanisme koordinasi antar instansi terkait perpindahan pegawai,
- Format penilaian kinerja yang akan menjadi dasar mutasi masih dalam proses penyusunan.
Zudan menyatakan bahwa aturan teknis ini akan segera disosialisasikan ke seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahpahaman atau potensi pelanggaran dalam implementasi kebijakan baru ini, memastikan transisi yang mulus.
BKN meyakini bahwa kebijakan ini adalah bagian penting dalam mendorong percepatan reformasi birokrasi. Dengan memberikan fleksibilitas mobilitas, pemerintah berharap ASN dapat menyesuaikan diri dengan tantangan dan kebutuhan zaman yang terus berubah, sekaligus turut meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri.
Berita Terkait
-
Beasiswa Unggulan 2025: Syarat, Kriteria, dan Jadwal Terbaru
-
ASN Pemprov DKI Tak Boleh Telat di Hari Pertama Masuk Sekolah, Rano Karno: Nanti Tukin Dipotong!
-
31.066 Dosen Sudah Pencairan Tunjangan Kinerja (Tukin), Ini Skema dan Kategori Penerima
-
6 Fakta Mengerikan Mayat di Ciliwung: Benarkah ASN Kemendagri Korban Longsor?
-
ASN Pemprov DKI Masih Bandel Pakai Kendaraan Pribadi Hari Rabu, Pramono Janji Kasih Hukuman Tegas
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
Terkini
-
Bukan Musuh, Pemred Suara.com Ajak Jurnalis Sulsel Taklukkan Algoritma Lewat Workshop AI
-
Sekjen PBNU Ungkap Alasan Prabowo Gabung Board of Peace: Demi Cegah Korban Lebih Banyak di Gaza
-
Hadiri Majelis Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi, Megawati Duduk Bersebelahan dengan Ramos Horta
-
Tiket Kereta Lebaran 2026 Telah Terjual Lebih Dari 380 Ribu, Purwokerto Jadi Tujuan Paling Laris
-
Nekat Berangkat Saat Sakit, Tangis Pilu Nur Afni PMI Ilegal Minta Dipulangkan dari Arab Saudi
-
Kisah Epi, ASN Tuna Netra Kemensos yang Setia Ajarkan Alquran
-
KPK Masih Menyisir Biro Travel yang Ikut Bermain Jual-Beli Kuota Haji di Kemenag Periode 2023-2024
-
Pastikan Pengungsi Hidup Layak, Kasatgas Tito Tinjau Huntara di Aceh Tamiang
-
KPK Cecar 5 Bos Travel Terkait Kasus Kuota Haji, Telisik Aliran Duit Haram ke Oknum Kemenag
-
Soroti Siswa SD Bunuh Diri di Ngada, Ketua Komisi X DPR Desak Negara Hadir untuk Keluarga Miskin