News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 17:08 WIB
Presiden AS Donald Trump (kanan) dan PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri).
Baca 10 detik
  • Majalah The Economist (7-13 Maret 2026) mengkritik Presiden Trump memulai perang tanpa strategi jelas melawan Iran.
  • Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran oleh AS dan Israel gagal mencapai tujuan politik; digantikan pemimpin baru.
  • Perang tanpa strategi ini menyebabkan Iran bereaksi, menyerang Teluk, dan menutup Selat Hormuz, merugikan ekonomi global.

Ketiadaan strategi dalam perang yang dilakukan Trump, justru menguntungkan secara politik bagi Iran. Sebab, perang sejatinya adalah politik yang keluar dari moncong senjata. 

"Sejauh ini, Iran berhasil. Alih-alih runtuh, mereka justru bergegas untuk meningkatkan eskalasi secara horizontal—cara lain untuk mengatakan bahwa mereka menyerang ke segala arah. Hal ini memiliki sejumlah konsekuensi."

Salah satu alasannya adala,  negara-negara lain ikut terseret. Iran menyerang negara-negara Teluk, yang menjadi pangakalan-pangkalan militer AS.

Konsekuensi lainnya adalah ekonomi. Iran telah menutup Selat Hormuz, memutus jalur pelayaran.
Penurunan pasokan minyak global diperkirakan mencapai 20 persen.

Dampaknya juga terasa pada infrastruktur energi, termasuk kompleks pencairan gas terbesar di dunia dan kilang minyak terbesar di Arab Saudi.

Harga minyak mentah Brent naik 14 persen sejak 27 Februari, menjadi USD83 per barel.

Satu megawatt-jam gas alam di Eropa berharga Euro 54), lebih dari 70 persen lebih tinggi dibandingkan minggu lalu.

Karena pembeli di Asia berebut pasokan, harga bisa naik lebih tinggi lagi. Ekonomi global masih bisa terpukul. Jika harga minyak mencapai USD100 per barel, pertumbuhan PDB bisa turun 0,4 poin persentase dan inflasi naik 1,2 poin.

Akhirul kalam, The Economist menyarakan agar Donald Trump segera mencari cara untuk keluar dari perang, mengklaim kemenangan secara dini, karena sangat berisiko bila terus berlanjut.

Baca Juga: Media Iran: Kemungkinan Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia

"Amerika mungkin merupakan pengekspor energi, tetapi para pemilih Trumo membenci bensin yang mahal. Ia mungkin tergoda untuk mencari kemenangan mutlak dengan membom rezim tersebut hingga musnah. Tetapi bahkan dengan kekuatan militer Amerika, ia mungkin tidak akan berhasil. Sementara itu, semua risiko tersebut akan terus merugikan kawasan dan ekonomi dunia. Lebih baik AS mendeklarasikan kemenangan lebih dini ketimbang nanti akan kesusahan," tulis The Economist.

Load More