-
Pemukim Israel menembak mati siswa remaja dan warga dewasa di sekolah Ramallah.
-
Serangan di Al-Mughayyir melibatkan pelaku berseragam militer dengan dukungan tentara infanteri.
-
Intensitas kekerasan pemukim di Tepi Barat melonjak tajam sejak akhir tahun lalu.
Suara.com - Institusi pendidikan di Tepi Barat kini bertransformasi menjadi zona tempur yang mematikan bagi warga sipil.
Penyerangan brutal oleh kelompok pemukim Israel di sekolah desa Al-Mughayyir telah merenggut nyawa dua penduduk lokal.
Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi identitas korban tewas adalah remaja berusia 14 tahun dan pria dewasa.
Peristiwa ini menandai eskalasi serius di mana fasilitas pendidikan menjadi sasaran langsung tembakan peluru tajam.
Laporan dari MME, medis menyebutkan setidaknya empat orang lainnya mengalami luka-luka serius akibat serangan bersenjata tersebut.
Serangan ini bermula saat sekelompok orang berpakaian seragam militer mencoba mengusir petani dari lahan mereka.
Situasi memanas ketika kelompok bersenjata tersebut bergerak menuju area sekolah di timur laut Ramallah.
Saksi mata melaporkan bahwa para penyerang mendapatkan perlindungan dari infanteri tentara Israel selama aksi berlangsung.
Warga desa yang mencoba melindungi para siswa justru disambut dengan rentetan tembakan dari jarak dekat.
Baca Juga: Penembakan Turis di Piramida Teotihuacan Meksiko Mengancam Keamanan Piala Dunia 2026
Aws Hamdi al-Nassan yang masih berusia belia ditemukan bersimbah darah di halaman sekolah yang seharusnya aman.
Kesaksian Tragedi di Al-Mughayyir
Bilal Abu Aliya, seorang saksi mata di lokasi kejadian, memberikan keterangan mengenai kebrutalan serangan tersebut.
"Pemukim yang mengenakan seragam militer melepaskan tembakan langsung ke arah sekolah dan para siswa, tanpa alasan apa pun," ujar Bilal.
Hamed Abu Naim menceritakan momen mencekam saat dirinya berusaha menolong anggota keluarga yang terjebak di dalam.
"Adegan itu sangat tragis. Lebih dari 500 siswa ketakutan karena tembakan yang gencar, dan orang tua mereka mencoba menyelamatkan serta mengeluarkan mereka dari sekolah," kata Hamed.
Ia menambahkan betapa intensnya situasi saat itu layaknya sebuah medan perang yang sesungguhnya.
"Penembakan itu tidak berhenti sesaat pun. Itu adalah perang dalam setiap arti kata tersebut," ungkap Hamed dengan getir.
Keluarga korban merasakan kepedihan mendalam karena pola kekerasan yang terus berulang selama bertahun-tahun.
Paman dari korban remaja mengungkapkan bahwa serangan ini tampak sudah direncanakan untuk memakan banyak korban.
"Aws sekarang menyusul ayahnya," kata Faraj, merujuk pada kematian ayah Aws dalam serangan serupa pada tahun 2019.
Ia mengenang bagaimana Aws kecil harus kehilangan ayahnya dan kini mengalami nasib yang sama tanpa kesalahan.
"Dia adalah seorang anak kecil pada waktu itu dan mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya dengan penuh kesedihan, tanpa ada kesalahan darinya, dan hari ini dia dibunuh dengan cara yang sama," tutur Faraj.
Direktur pendidikan setempat, Haniya Nazzal, mengecam keras penghancuran masa depan anak-anak di wilayah tersebut.
"Pendudukan Israel membunuh kepolosan [Nassan], dan halaman sekolah bersimbah darahnya," tegas Haniya.
Kekerasan oleh pemukim Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sejak Oktober 2023.
Selain penembakan di sekolah, militer juga dilaporkan merobohkan fasilitas pendidikan primer lainnya di Lembah Yordan.
Data dari Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman mencatat hampir 500 serangan terjadi hanya dalam satu bulan terakhir.
Warga Al-Mughayyir menyatakan bahwa tekanan ini bertujuan untuk memaksa mereka meninggalkan tanah kelahiran secara sistematis.
Meski diteror, penduduk lokal berkomitmen untuk tetap bertahan dan menjaga kedaulatan tempat tinggal mereka dari agresi.
"Serangan ini bukan hal baru bagi desa kami," kata Abu Aliya menekankan keberanian warga menghadapi ancaman.
"Tapi kami tidak akan meninggalkan desa kami, dan kami akan selalu mempertahankannya," tutupnya penuh penegasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
KontraS: Operasi Balas Dendam TNI-Polri di Papua Bentuk Pelanggaran HAM Berat
-
Kawal Program MBG, Komnas HAM Susun Kajian Strategis dan SNP Hak Atas Pangan
-
Jubir KPK Dilaporkan Faizal Assegaf ke Polisi, Eks Penyidik: Indikasi Serangan Balik Koruptor
-
Demi Korban 98, Koalisi Sipil Banding Lawan Fadli Zon Usai Gugatan Ditolak PTUN
-
Pangan RI dalam Bahaya? Pakar Ungkap Efek Suhu Panas yang Bisa Bikin Bulir Padi Tak Terbentuk
-
Petaka Berenang di Ciliwung: Bocah 11 Tahun Hilang Terseret Arus, Tim SAR Sisir Sungai Hingga 4 Km
-
Militer AS Frustrasi Lawan Iran, Donald Trump Malah Bahas Narkoba di Gedung Putih
-
Dibalik Megahnya USS Gerald R. Ford: Toilet Tersumbat, Serangan AS ke Iran pun Terhambat, Kualat?
-
Viral! Hotel di Negara Ini Buat Pengumuman: Hewan dan Orang Yahudi Dilarang Masuk
-
Kejar Target Tembus Top 50 Kota Global, Pramono Anung 'Gerilya' ke Tiongkok hingga Jepang