- Pemerintah menuai kritik karena menggunakan dana pendidikan APBN 2026 sebesar Rp270 triliun untuk mendanai program Makan Bergizi Gratis.
- Prof. Hafid Abbas menyarankan pemerintah mencari sumber dana alternatif dari pos subsidi atau bantuan sosial agar anggaran pendidikan terjaga.
- Program Makan Bergizi Gratis saat ini mendapat sorotan publik menyusul adanya kasus dugaan korupsi yang melibatkan mantan Kepala Badan Gizi.
Suara.com - Polemik sumber pendanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali disorot. Keputusan pemerintah mengambil jatah anggaran pendidikan dalam APBN untuk mendanai program tersebut menuai kritik tajam karena dianggap mengancam keberlangsungan program pendidikan lainnya.
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Hafid Abbas, mengungkapkan kekhawatirannya.
Menurutnya, langkah mencaplok anggaran pendidikan di tengah keterbatasan dana hanya akan membebani sektor krusial tersebut.
Sebagai informasi, pemerintah telah mematok dana pendidikan sebesar Rp769,1 triliun dalam APBN 2026. Sementara itu, pembiayaan program MBG saat ini diproyeksikan mencapai Rp270 triliun, angka yang sejatinya sudah terkoreksi dari rencana awal sebesar Rp335 triliun.
Hafid menilai potret politik anggaran pendidikan saat ini masih jauh dari rasa keadilan.
Mantan Ketua Komnas HAM ini pun menantang pemerintah untuk lebih kreatif mencari kantong-kantong dana lain demi menyokong program andalan Presiden Prabowo Subianto tersebut tanpa harus mengorbankan bangku sekolah.
Ia menyarankan agar pemerintah mengalihkan anggaran dari kementerian tertentu atau pos subsidi yang selama ini dinilai belum tepat sasaran.
"Sumber dana banyak. Ada subsidi listrik, BBM, gas, bansos. Macam-macam," kata Hafid dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP pada Senin (6/7/2026).
Hafid memberikan simulasi konkret. Jika pemerintah berani mengambil anggaran MBG dari pos bantuan sosial (bansos) Kemensos yang nilainya mencapai Rp400 hingga Rp500 triliun, maka "napas" anggaran pendidikan dipastikan aman.
Baca Juga: Gara-gara Berkas Tak Lengkap! Kasus Heli Anggota DKPP Tio Aliansyah Resmi Dinyatakan Gugur
Namun, ia mencium aroma janggal di balik keengganan pemerintah menyentuh dana bansos tersebut. Ia curiga ada kepentingan terselubung di mana bansos masih ingin dipertahankan sebagai komoditas politik.
"Sebenarnya dana pendidikan gak perlu di ganggu. Tapi itu kelihatannya disiapkan untuk bagi-bagi amplop menjelang Pemilu. Dijadikan (BLT) alat politik," cetusnya.
Tak hanya soal pengalihan anggaran, Hafid juga mendesak pemerintah melakukan efisiensi radikal.
Salah satunya dengan memangkas biaya perjalanan dinas yang selama ini dianggap hanya menghamburkan uang negara tanpa urgensi yang jelas.
Apresiasi yang Tercederai Korupsi
Meski melontarkan kritik pedas soal pendanaan, Hafid mengakui bahwa secara esensi, program MBG memiliki sisi positif untuk memangkas jurang kesenjangan ekonomi. Namun, syaratnya mutlak: harus dikelola secara profesional.
Berita Terkait
-
Anggaran MBG 2027 Bakal Turun, Segini Hitung-hitungannya!
-
Keras! Guru Besar UNJ Sebut Program Makan Bergizi Gratis Jadi 'Proyek Berbagi Keuntungan'
-
Purbaya Mau Efisiensi Anggaran MBG Besar-besaran, Kemenkeu Ikut Awasi SPPG
-
Gara-gara Berkas Tak Lengkap! Kasus Heli Anggota DKPP Tio Aliansyah Resmi Dinyatakan Gugur
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Desain Estetik tapi Bikin Gerah, Pramono Janji Benahi Halte Rasuna Said
-
InJourney Semarakkan ASTINDO Travel Fair 2026 dengan Deretan Promo Eksklusif
-
Warna Earth Tone untuk Rumah Bawa Keberuntungan, Ini Cara Menerapkannya sesuai Feng Shui
-
Review Film A New Dawn: Potret Puitis Perubahan Zaman dan Kenangan Manusia
-
Indonesia Tak Baik-baik Saja, Guru Besar UGM Soroti Ketimpangan dan Dominasi Oligarki
-
Nonton Film di Rumah Makin Sinematik, Teknologi LG Tampilkan Gambar Sesuai Visi Kreator
-
42 Amplop Muncul Saat Pencairan Dana BOS di Lubuk Linggau, 3 Pegawai Dibebastugaskan
-
Jelang Muktamar Ke-35, KH Miftachul Ahyar Tinjau Kesiapan di Tambakberas
-
Bagaimana Cara Kerja Magnet dan Sifat-sifatnya? Ini Penjelasannya
-
Hadapi Badai Efisiensi, Local Media Community Makassar Dorong Diversifikasi Bisnis