Selasa, 25 November 2025 | 13:50 WIB
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Dyah Maharani, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM. (Suara.com/Foto dok. Pribadi)
Baca 10 detik
  • Pemerintah mengalokasikan kredit Rp20 triliun untuk pengembangan peternakan ayam demi mencapai kemandirian pangan nasional.
  • Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, menstabilkan harga, mendukung program makan bergizi, dan mengurangi impor bahan pangan.
  • Program ini memerlukan pengawasan ketat serta prioritas pada peternak kecil dan UMKM untuk menghindari risiko penyimpangan dana.

Suara.com - Pemerintah tengah menyiapkan terobosan dengan menggelontorkan kredit senilai Rp20 triliun dari dana Danantara, khusus untuk pengembangan peternakan ayam.

Suntikan dana masif ini bukan sekadar angka, melainkan amunisi strategis untuk mempercepat terwujudnya mimpi besar menuju kemandirian pangan nasional.

Kebijakan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan pasokan protein hewani bagi masyarakat, terutama dalam mendukung program makan bergizi gratis bagi siswa sekolah.

Dukungan pembiayaan yang besar ini dinilai tepat karena dapat meningkatkan kapasitas produksi peternak, menciptakan lapangan kerja, menstabilkan harga ayam di pasar, serta membantu pelaku usaha kecil yang selama ini terkendala modal.

Jika dijalankan dengan baik, program ini dapat meningkatkan kualitas gizi generasi muda.

Selain itu, program ini juga diperkirakan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan pangan, sehingga menjadi pondasi kuat bagi ketahanan pangan Indonesia di masa depan.

Meskipun terlihat menjanjikan, kebijakan penyediaan kredit Rp20 triliun untuk sektor peternakan ayam juga menimbulkan kekhawatiran.

Besarnya alokasi dana berpotensi menimbulkan risiko jika penyalurannya tidak diawasi secara ketat.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa skema kredit besar sering kali tidak tepat sasaran, cenderung lebih menguntungkan perusahaan besar, dan menyulitkan peternak kecil yang memiliki keterbatasan jaminan serta akses informasi.

Baca Juga: Dari IPB hingga UGM, Pakar Pangan dan Gizi Siap Dukung BGN untuk Kemajuan Program MBG

Selain itu, fokus yang terlalu besar pada satu komoditas, yaitu ayam, dapat menciptakan ketergantungan dan melemahkan diversifikasi pangan hewani lain seperti ikan, sapi, atau unggas alternatif.

Bila tidak dikelola secara hati-hati, program ini berisiko menimbulkan oversupply, jatuhnya harga di tingkat peternak, serta menambah beban APBN apabila tidak menghasilkan dampak yang signifikan terhadap ketahanan pangan.

Prioritas Perbaikan

Agar program ini berhasil dan memberikan manfaat maksimal, sejumlah langkah perbaikan dapat dipertimbangkan.

Pertama, prioritaskan peternak kecil dan UMKM. Skema kredit harus dirancang inklusif, mudah diakses, dan tidak terlalu membebani peternak kecil dengan persyaratan yang sulit dipenuhi.

Kedua, perkuat sistem pengawasan dan transparansi. Pemerintah perlu memastikan distribusi dana tepat sasaran, dengan mekanisme pelaporan publik dan evaluasi berkala agar anggaran terserap efektif dan bebas dari penyimpangan.

Ketiga, berikan pendampingan teknis dan pelatihan manajemen. Modal saja tidak cukup, peternak perlu peningkatan kapasitas terkait manajemen usaha, kesehatan ternak, teknologi pakan, hingga pemasaran.

Keempat, bangun rantai pasok dan infrastruktur terpadu. Mulai dari pasokan bibit unggul, pakan, fasilitas sapronak, hingga distribusi, agar hasil produksi tidak menumpuk (over supply) dan dapat terserap pasar secara optimal.

Kelima, jaga diversifikasi protein hewani. Meskipun ayam menjadi fokus utama, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan dengan mendukung subsektor pangan lainnya agar ketahanan pangan tetap beragam dan berkelanjutan.

Model Family Urban Farming

Selain pemberian kredit untuk sektor peternakan skala besar, pemerintah juga dapat mendorong model family urban farming, misalnya beternak ayam petelur di lingkungan rumah tangga perkotaan.

Ilustrasi peternak ayam. [Freepik.com/jcomp]

Program ini dapat dirancang sebagai pola usaha mikro keluarga yang tidak hanya menyediakan sumber protein hewani harian untuk konsumsi sendiri, tetapi juga memberi peluang pendapatan tambahan dari penjualan surplus produksi.

Dengan bantuan modal kecil, bibit unggas yang tersertifikasi, pelatihan teknis, serta pendampingan sanitasi lingkungan, keluarga perkotaan dapat mengelola mini kandang ayam petelur yang higienis, terukur, dan ramah lingkungan.

Hasil produksi yang tidak dikonsumsi dapat dijual melalui koperasi tingkat kelurahan misalnya, sehingga tercipta ekosistem usaha yang saling mendukung antara rumah tangga, koperasi (penyedia Sarana Produksi Peternakan (sapronak) dan pendamping pengelolaan usaha) dan pasar lokal.

Model ini memiliki beberapa manfaat sekaligus, di antaranya:

  1. Memperkuat ketahanan pangan keluarga secara langsung.
  2. Menciptakan sumber penghasilan tambahan dengan risiko usaha rendah.
  3. Memperluas basis produksi pangan nasional hingga ke akar rumput.
  4. Membangun budaya kemandirian dan produktivitas di masyarakat perkotaan.

Dengan pendekatan ini, program kredit Rp20 triliun tidak hanya menguatkan industri peternakan nasional berskala besar, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat level bawah, memperkuat ekonomi keluarga, dan mengurangi ketergantungan terhadap suplai pangan dari luar daerah.

Program ini sekaligus dapat menjadi sarana edukasi bagi keluarga dan anak-anak untuk memahami pentingnya kemandirian pangan dan pola konsumsi sehat sejak dini.

Prof. Ir. Dyah Maharani, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM dan Pengurus ARPENAS.

Load More