Pada tahun 2016, terdapat penambahan fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina dari PT. Harvest sebesar 1 juta ton dan PT. Antam sebesar 1,2 juta ton, termasuk dengan target pada tahun 2018 yang diharapkan sudah mendirikan smelter untuk mengolah alumina tersebut untuk menghasilkan aluminium ingot sebesar 1,1 juta ton. Di samping itu, hingga tahun 2017 terdapat tambahan kapasitas produksi 0,15 juta ton dari PT. Inalum.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan demand produk aluminium (al ingot) dari tahun 2013-2025, perlu mengoptimalkan bahan baku dari dalam negeri berupa bauksit sebesar 74,4 juta ton. Sementara itu, guna memenuhi kebutuhan energi atas pembangunan smelter dengan kapasitas total 3,5 juta ton pada tahun 2025, dibutuhkan kepastian supply energi listrik sebesar 11.200 Mega Watt dengan asumsi untuk menghasilkan 1000 ton al ingot membutuhkan 3 MW dan 1000 ton alumina membutuhkan 0,32 MW.
Dan, keempat, produksi nikel dalam ferronickel pada tahun 2013 sebesar 180 ribu ton dan diperkirakan kebutuhan stainless steel pada tahun 2025 akan mencapai 400 ribu ton. “Untuk memenuhi demand tahun 2025 tersebut, diperlukan tambahan pembangunan smelter,” ujarnya.
Adapun PT Antam akan membangun pabrik stainless steel pada tahun 2020 dengan kapasitas 600 ribu ton. Di samping itu, terdapat investasi yang akan membangun smelter ferronickel meliputi PT. Bumi Makmur Selaras, PT. Feni Haltim, PT.Antam, PT. Weda Bay Nickel dan PT. Multi Baja Selaras dengan kapasitas total sebesar 1,3 juta ton dandiproyeksikan adanya investasi lain sebesar 200 ribu ton sampai tahun 2025.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan demand produk stainless steel dari tahun 2013-2025, perlu mengoptimalkan bahan baku dari dalam negeri berupa bijih nikel sebesar 80 juta ton. Sementara itu, guna memenuhi kebutuhan energi atas pembangunan smelter ferronickel dan pabrik stainless steel pada tahun 2025, dibutuhkan kepastian supply energi setara energi listrik sebesar 1.020 MW.
Mengenai kinerja industri logam, kata Putu, pertumbuhannya cukup signifikan mencapai 6,53 persen pada tahun 2015 atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri non migas sebesar 5,25 persen dan ekonomi nasional sebesar 4,86 persen pada periode yang sama.
Kemudian dari sisi jumlah perusahaan juga menunjukkan peningkatan, tahun 2010 sebanyak 988 unit menjadi 1.369 unit pada 2014. Diikuti pula peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja, tahun 2015 mencapai 430 ribu orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 342 orang.
“Beberapa tahun belakangan, nilai ekspor produk industri logam terus naik. Pada 2014 mencapai USD 9.7 miliar, sedangkan tahun sebelumya sebesar USD 9,1 miliar,” tutur Putu. Sebaliknya, nilai impor produknya menurun, dari tahun 2013 sebesar USD 19 miliar menjadi USD 17 miliar pada 2014.
Sementara itu, nilai investasi industri logam terus meningkat tiap tahun. Pada tahun 2010 sebesar USD 5,7 miliar, tahun 2011 USD 5,8 miliar, tahun 2012 USD 5,9 miliar, tahun 2013 USD 7,7 miliar, tahun 2014 USD 9,1 miliar, dan tahun 2015 USD 12 miliar. "Dari hasil kinerja tersebut, membuktikan industri logam dalam negeri menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi dan penguatan struktur industri nasional," ungkapnya.
Berita Terkait
-
Emiten MMIX Langsung Kebanjiran Pesanan Maklon, Prospek Industri Popok RI Makin Menjanjikan
-
Kemenperin Klaim Dua Perusahaan Komponen Otomotif Jepang Tak Pindah ke Vietnam
-
Pemadaman Listrik Hambat Industri Manufaktur di Juni 2026
-
Industri Semakin Pesimistis, Permintaan Domestik Melemah
-
GAIKINDO Desak Pemerintah Beri Insentif Merata Untuk Mobil Bensin Hingga Hybrid
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda
-
Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax
-
Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap
-
Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh
-
Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru
-
Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050
-
Ratusan Santri Antusias Ikuti Beragam Aktivitas di Junior Miners Fun Fest 2026
-
Negara di Eropa Mendadak Jor-joran Belanja Militer, Ada Isu Perang Besar?
-
Manajemen dan Komunitas Gim Digital di Indonesia Mulai Dilirik Investor