Suara.com - Greenpeace Sea Indonesia menyatakan investor asing sektor perkebunan terlibat dan mereka harus ikut bertanggung jawab atas kebakaran hutan di Pulau Sumatera dan Kalimantan.
"Sebanyak 80 persen titik-titik api berada di kawasan perkebunan sawit skala besar, sementara 20 persen ada di lahan-lahan milik petani, jadi penanganan dan penindakan terhadap pelaku pembakaran harus fokus," kata Kepala Greenpeace Sea Indonesia, Longgena Ginting di Jakarta, Rabu (24/9/2014).
Selama ini, perusahaan perkebunan skala besar membuka lahan perkebunan baru dengan membakar, karena sistem membakar merupakan cara yang mudah dan murah biaya, katanya.
"Selama ini, apabila terjadi kebakaran hutan selalu disalahkan petani, sementara pemilik perusahaan perkebunan ini tidak tersentuh yang telah melakukan pembakaran lahan ribuan hektare," ujarnya.
Menurut dia, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan ini, seperti pisau yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, karena selama ini hanya petani atau buruh perusahaan itu yang ditangkap dan diadili.
"Seharusnya yang ditangkap dan bertanggung jawab pemilik perusahaan perkebunan ini, karena masih lemahnya sistem penegakan hukum ini," ujarnya.
Ia mengatakan, sebagian besar perusahaan perkebunan di Indonesia milik investor dari Malaysia dan Singapura, misalnya, perusahaan raksasa April Group, Sinarmas, Willmart berkantor di Singapura dan Malaysia.
"Seharusnya pemilik perusahaan ini peduli dan berperan mengantisipasi asap hasil kebakaran hutan ini, jangan hanya komplain saat asap masuk ke wilayah mereka, tetapi mereka tidak tahu jika asap tersebut berasal dari perkebunan sawit yang ada di Riau, Jambi, Kalimatan Selatan, Kalimantan Tengah," ujarnya. (Antara)
Berita Terkait
-
Saat 'Luka Bakar' Gambut Sumatra Selatan Coba Disembuhkan Lewat Solusi Alam
-
Cara Efektif Mencegah Kebakaran Saat Kemarau Panjang
-
NHM Gelar Simulasi Tanggap Darurat Karhutla, Perkuat Kesiapsiagaan di Tambang Indonesia Timur
-
Kebakaran Hutan Dunia Meningkat Tajam, Dampak Ekonomi dan Risiko Kemanusiaan Kian Parah
-
Badai Api Mengguncang Bumi: Tantangan Baru Ilmuwan di Era Pemanasan Global
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Dedi Mulyadi dan Willy Bongkar Sisi Gelap Gunung Emas: 70 Ribu Gurandil dan Raup 250 Ton Emas Sehari
-
Ada Proyek Pipa PAM Jaya, Dishub DKI Terapkan Rekayasa Lalin di R.A. KartiniFatmawati Mulai Besok
-
Malam-malam Mendiktisaintek Brian Yuliarto Datangi Istana, Dibonceng Patwal
-
Suara.com Bersama LMC Gelar 'AI Tools Training for Journalists' di Yogyakarta
-
Pengaduan Pelanggaran Hak Anak ke KPAI Melonjak, Identitas 66 Persen Pelaku Tidak Diungkap
-
Antisipasi Banjir, Pemprov DKI Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca Hingga 22 Januari
-
Hirup Udara Bebas, Laras Faizati Ingin Ziarah ke Makam Ayah Hingga Main ke Mal
-
Pakar Hukum Sebut Pilkada Lewat DPRD Suburkan Oligarki dan Renggut Kedaulatan Rakyat
-
Mendagri Pimpin Rakor Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra
-
DPRD DKI Pastikan Tiang Monorel Rasuna Said Kembali ke Adhi Karya usai Dibongkar Pemprov