News / Nasional
Selasa, 07 Juli 2015 | 02:30 WIB
Ilustrasi.

Suara.com - Keluarga terduga anggota jaringan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS di Kota Pekanbaru, Riau, diketahui berasal dari keluarga yang cukup kaya dan memiliki usaha ekspedisi.

"Istri TB yang berinisial YB setahu saya mempunyai usaha ekspedisi karena saya sering diminta untuk mengantarkan barang-barang ekspedisi miliknya," kata tetangga terduga di RT 02 RW 10 Kelurahan Delima, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Mustofa Lubis kepada Antara di Pekanbaru, Senin (6/7/2015).

Ia menjelaskan bahwa keluarga yang bersangkutan bisa disebut sebagai keluarga yang mempunyai tingkat ekonomi berkecukupan.

Sementara itu, dalam menjalankan usaha tersebut, keluarganya memperkerjakan beberapa karyawan. Namun, sejak keluarga tersebut pergi ke Suriah untuk kemudian diduga bergabung dengan ISIS pada 2013 lalu, usaha tersebut diteruskan oleh seorang karyawannya bernama Didik.

Mustofa mengatakan bahwa usaha yang dijalankan oleh terduga berada di Kota Pekanbaru, namun ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alamat usaha yang bersangkutan.

Rumah terduga ISIS yang berada di Jalan Srikandi RT 04 RW 10 tampak sederhana. Rumah tersebut tepat berada di belakang SPBU Jalan Delima. Tampak sebuah pendingin udara terpasang di rumah berpagar tersebut.

Menurut Mustofa rumah tersebut saat in ditinggali oleh adik ipar terduga ISIS berinisial Fa. Ia menjelaskan bahwa Fa merupakan pegawai Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Pekanbaru yang dikenal baik dan cukup aktif dalam kegiatan bermasyarakat.

Sebelumnya Direktorat Intelijen dan Keamanan Kepolisian Daerah Riau mendeteksi keberadaan sebuah keluarga yang terkait dengan jaringan (ISIS).

"Keluarga tersebut terdiri dari suami yang bernisial TB, istrinya YB dan anaknya MJ," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Riau, AKBP Guntur Aryo Tejo.

Ia menjelaskan kepastian bahwa mereka merupakan bagian dari jariangan ISIS bersumber dari beragam informasi yang berhasil dikumpulkan oleh intelijen Polda Riau beberapa waktu lalu.

"Kita memiliki rekaman komunikasi mereka, dokumentasi foto-foto mereka dan bukti lainnya," jelasnya.

Menurutnya, dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa TB sudah terlebih dahulu berada di Syria sejak tahun 2013. Selanjutnya, beberapa bulan lalu ia meminta kepada istri dan anaknya untuk turut serta mengikuti jejaknya ke Suriah melalui jalur penerbangan Jakarta ke Turki untuk kemudian menuju ke wilayah Hatai.

"Dari Hatai, ada relawan ISIS yang menjemput keluarga tersebut untuk dibawa ke Suriah," ujarnya.

Guntur menuturkan bahwa saat ini seluruh keluarga tersebut sudah tidak lagi berada di Pekanbaru dan telah berada di Suriah, akan tetapi dari bukti transkrip komunikasi yang Polda Riau miliki, keluarga tersebut masih tetap berkomunikasi dengan anggota keluarganya yakni adik iparnya di Pekanbaru.

Untuk saat ini ia menjelaskan pihaknya masih berusaha menelusuri penyebaran ISIS yang dilakukan oleh keluarga tersebut di Pekanbaru, tepatnya di sekitar tempat tinggal mereka yakni di Kecamatan Tampan.

Sementara itu, guna memutus mata rantai penyebaran tersebut, ia menegaskan pihaknya telah melakukan beragam upaya preventif yakni dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dengan menekankan bahwa jaringan tersebut berbahaya dan tidak sesuai dengan norma Pancasila.

Tag

Load More