- Pengawas internal Departemen Kehakiman AS menyelidiki kepatuhan pemerintah atas Undang-Undang Transparansi Dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein.
- Penyelidikan dilakukan karena muncul tudingan ketidakpatuhan, penyensoran berlebihan, serta keterlambatan rilis dokumen yang melanggar batas waktu legal.
- Pemerintah Trump ditekan Kongres untuk segera membuka sisa dokumen secara transparan atau akan menghadapi konsekuensi hukum serius.
Suara.com - Pengawas internal Departemen Kehakiman Amerika Serikat akan menyelidiki proses rilis dokumen terkait Jeffrey Epstein.
Langkah ini diambil setelah muncul tudingan bahwa pemerintah Donald Trump tidak sepenuhnya mematuhi aturan transparansi yang berlaku.
Kantor Inspektur Jenderal dari Departemen Kehakiman AS menyatakan penyelidikan akan fokus pada kepatuhan terhadap Undang-Undang Transparansi Dokumen Epstein.
Regulasi tersebut mewajibkan seluruh dokumen tidak rahasia dirilis secara terbuka dan mudah diakses publik.
“Kami akan mengevaluasi proses identifikasi, penyuntingan, dan publikasi dokumen sesuai ketentuan undang-undang,” demikian pernyataan resmi Departemen Kehakiman AS dilansir dari Aljazeera.
Departemen Kehakiman sebelumnya telah merilis jutaan halaman dokumen, termasuk katalog besar pada Januari lalu.
Meski demikian, publik mempertanyakan isi dan waktu rilis yang dinilai melampaui batas 30 hari yang ditetapkan undang-undang.
Selain itu, korban yang selamat dari kasus Epstein juga menyuarakan keberatan.
Para korban menilai beberapa informasi pribadi justru ikut terungkap dalam dokumen tersebut.
Baca Juga: Donald Trump Perintahkan Tembak dan Bunuh Jenis Kapal Ini di Selat Hormuz
Sejak kembali menjabat pada 2025, Presiden Trump menghadapi sorotan terkait hubungannya dengan Epstein di masa lalu.
Pernyataan pemerintah yang berubah-ubah soal keberadaan daftar klien Epstein semakin memperkuat kecurigaan publik.
Survei terbaru bahkan menunjukkan lebih dari separuh responden percaya ada upaya menutupi fakta dalam kasus ini.
Tekanan pun meningkat agar pemerintah membuka seluruh dokumen secara transparan.
Pemerintahan Donald Trump menghadapi tekanan dari anggota parlemen yang menilai adanya penyensoran berlebihan dalam dokumen yang dirilis.
Kebijakan itu diduga untuk melindungi tokoh-tokoh berpengaruh yang terkait dengan Epstein.
Berita Terkait
-
Donald Trump Perintahkan Tembak dan Bunuh Jenis Kapal Ini di Selat Hormuz
-
Rupiah Hari Ini Menguat Tipis ke Rp17.284 per Dolar AS
-
AS Sebar Informasi Wajah Mojtaba Khamenei Terbakar hingga Sulit Bicara, Benarkah?
-
Aksi di Kedubes AS Jakarta, Pemuda Dukung Paus Leo XIV Tolak Perang Trump-Iran
-
7 Hari Menuju Ambang Batas: Trump di Ujung Tanduk, Kongres Beri 'Cek Kosong' Perang?
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Strategi Baru MA Lawan Korupsi: Gandeng KPK untuk Gembleng 200 Pimpinan Pengadilan
-
Iran Tegaskan Persatuan Nasional di Tengah Ketegangan dengan Amerika Serikat
-
Harga LPG 12 Kg Melejit, Pemprov DKI Pantau Inflasi dan Wanti-wanti Tak 'Panic Buying'!
-
Satu Komando Lawan Agresi: Balasan Menohok Iran atas Retorika Pecah Belah Donald Trump
-
Harga BBM di Vietnam Turun, Pemerintah Perpanjang Insentif Pajak Impor Hingga Juni 2026
-
KPAI Desak Pemerintah Terapkan Cukai Minuman Manis, Soroti Dampak Industri ke Anak
-
PBB Soroti Eksekusi Mati Kasus Narkoba di Singapura, Dinilai Tak Sejalan dengan HAM
-
Vietnam dan Korea Selatan Sepakati Belasan Kerja Sama, Fokus Teknologi hingga Energi Nuklir
-
Aktivis Palestina Alami Luka Serius Akibat Taser Polisi dan Palu Saat Gerebek Pabrik Senjata
-
China Desak Kamboja Berantas Tuntas Scam Center, Wang Yi: Harus Dihapus Sepenuhnya