Jika semua komponen itu dijumlahkan, angka di atas Rp100 juta per bulan bukanlah hal yang mustahil.
Sebuah nominal yang sangat kontras dengan realitas kehidupan sebagian besar masyarakat yang mereka wakili.
Ironi di Atas Mimbar: Suara Dosen dan Guru Honorer yang Tak Terdengar
Kenaikan atau tingginya pendapatan anggota dewan ini menjadi semakin menyakitkan ketika kita menengok nasib para pahlawan tanpa tanda jasa.
Di sudut-sudut lain negeri ini, para guru honorer berjuang dengan gaji ratusan ribu rupiah per bulan, jauh di bawah upah minimum.
Mereka adalah garda terdepan pencetak generasi bangsa, namun kesejahteraan mereka seolah dilupakan.
Tidak jauh berbeda, para tenaga pendidik di level perguruan tinggi, seperti dosen, juga banyak yang menyuarakan keluhan serupa.
Dengan beban kerja yang tinggi—mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian masyarakat—pendapatan mereka seringkali tidak sebanding.
"Bagaimana mungkin negara ini mau maju jika pendidiknya saja tidak dimanusiakan? Di saat kami harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka di Senayan dengan mudahnya menikmati fasilitas dan gaji buta," ujar seorang dosen muda, Krisna Sujiwo di sebuah universitas swasta di Yogyakarta, Kamis (21/8/2025).
Baca Juga: Fathian Pujakesuma: Gaji DPR Besar, Tapi Modal Nyaleg Belum Tentu Balik
Kondisi ini menciptakan sebuah paradoks yang memilukan.
Negara seolah lebih menghargai mereka yang duduk di kursi empuk dan seringkali "tertidur" saat rapat, dibandingkan mereka yang berdiri di depan kelas, mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa.
Ketika Kinerja Tak Sebanding dengan Gaji
Kritik publik terhadap DPR bukanlah tanpa alasan. Banyak anggota dewan yang dinilai lebih sering "duduk, diam, dan dapat duit" ketimbang benar-benar turun ke lapangan, menyerap aspirasi, dan memperjuangkannya.
Fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran yang seharusnya menjadi tugas utama mereka, terasa tumpul.
Produktivitas legislasi yang rendah, rapat paripurna yang sering kosong, hingga kasus-kasus korupsi yang menjerat anggotanya menjadi catatan kelam yang terus berulang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
6 Fakta Heboh Semburan Minyak di Bangkalan: Ketinggian 5 Meter hingga Sifatnya yang Mudah Terbakar
-
Mensos Pastikan Dapur Umum di Aceh, Sumut, dan Sumbar Tetap Beroperasi Selama Tanggap Darurat
-
Kemenag Kembali Tersandung Korupsi, Lemahnya Tata Kelola Jadi Sorotan
-
Bejat! Modus Pedagang Takoyaki Ajak Anak 11 Tahun Naik Sepeda, Berakhir Dicabuli di Kalideres
-
PDIP Pasang Badan untuk Pandji, Djarot: Negara Jangan Mudah Tersinggung Oleh Kritik
-
Perut Isinya Sekilo Sabu, Aksi Gila Pasutri Pakistan Telan 159 Kapsul Demi Lolos di Bandara Soetta
-
Pasal Penggelapan KUHP Baru Digugat, Nurut Perintah Atasan Bisa Dipenjara 5 Tahun?
-
Kekuasaan Amnesti Presiden Digugat, Apa Beda Amnesti dan Abolisi yang Kini Diuji di MK?
-
KPK Buka Kartu, Eks Menag Yaqut Tersangka Korupsi Haji Sejak 8 Januari
-
Semeru Muntahkan Awan Panas 4 KM, Kolom Abu Kelabu Membumbung Tinggi, Status Siaga